Senin, 12 Oktober 2009

huhuhuhuh

Dari sebuah warung, terdengar suara anak menangis. Tidak lama kemudian, seorang perempuan mulai berteriak dalam bahasa jawa. Lantang, kasar dan menusuk.


"Diem kamu! Mau saya pukul ha? Suruh siapa nangis?! diem kamu!"



Suara tangis anak itu makin keras



"Diem! (plak!). Kalo kamu gak mau lagi saya suruh-suruh, tak puntir kepalamu!!"





Astaghfirullah! Saya langsung bergidik ngeri membayangkan pribadi macam apa yang tumbuh dari cara didik seperti itu. Dan memori kolektif saya sontak kembali ke masa lalu, pada mama.


Hari itu hujan deras mengguyur bandung dari pagi hari, berlanjut sampai siang, saat anak-anak SD Pajajaran pulang sekolah. Senyum saya mengembang melihat hujan, tandanya saya akan pulang hujan-hujanan dan bisa maen di genangan dan kubangan lumpur. Kedua sepatu ditalikan lalu saya kalungkan di leher. Tak enak main hujan sambil pakai sepatu. Satu jam kemudian saya sampai dirumah, dengan warna seragam yang sudah berubah. Belepotan lumpur, akibat tadi berlagak jadi kudanil. Melihat saya yang sangat dekil, mama cuma senyum dan nyuruh saya mandi, lalu makan. Ia tidak marah sedikitpun.


Pada  hari kartini, semua anak perempuan wajib pake kebaya dan kain, saya pun pake, yang gak mau pake disuruh bikin karya tulis tentang kartini minimal 3 lembar folio, ih males doong. Mama tau saya tidak suka pakai kebaya dan kain. Sebelum memakaikan kain, mama nyuruh saya pake celana pendek, katanya "Kalo kamu susah jalan, angkat aja kainnya, jalan pake celana pendek lebih enak kan?". Saya pun tersenyum lebar. Mama pun tidak mengoleskan make up warna-warni di muka saya, "Kamu bakal kayak ondel-ondel kalo pake make up" katanya. Dibanding berusaha membuat saya jadi putri keraton sehari, mama memilih untuk tetap membuat saya nyaman.


Ketika di kelas 2 sd, saya menjadi korban pelecehan seksual dari guru saya, yang akhirnya membuat saya menjadi anak yang benar-benar berubah, saya cerita pada mama. Ia menangis dan memeluk saya. Saya tau ia merasa bersalah bertahun-tahun atas kejadian itu. Tapi ia tidak tahu, bahwa seberapa burukpun kejadian itu, saya bersyukur telah dibesarkan oleh seorang ibu yang melaksanakan tugasnya dengan amat sangat baik, karena saya bisa saja berakhir lebih buruk jika bukan karena didikannya. Bertahun-tahun kemudian, kejadian itu dan pola didik mama, justru membuat saya menjadi orang yang lebih baik. Saya terbentuk menjadi orang yang kuat, percaya diri dan punya kuasa atas diri sendiri.




Beranjak besar, saya sempet salah gaul. Waktu itu saya kelas 6 SD. Saya dan temen-temen maen ke toko buku, ada stationery lucu-lucu di salah satu rak (pada masa itu stationery lucu adalah hal paling happening dalam pergaulan anak SD). Temen saya ngajakin saya ngutil. Saya pun nurut. Beberapa penghapus mirip permen masuk saku saya. Di luar pintu toko buku, seorang satpam menarik tangan kami. Setelah diinterogasi di sebuah kantor, mama saya dipanggil. Sampai dirumah, mama cuma diam. Saya tau ia marah banget sampai tidak mau mengajak saya bicara. Ketika akhirnya ia mau bicara, ia cuma bilang "Kita memang orang miskin, tapi kita bukan orang jahat". Sejak itu saya tak mau lagi nakal. Tidak diajak bicara oleh mama rasanya menyakitkan.


Belasan tahun kemudian saya sudah dewasa, sudah pacaran, suka berdua-duaan pula, dan mama tau itu. Suatu hari, ia mengira saya hamil karena saya udah lama gak mens (padahal setelah di usg ternyata ini soal hormon apalah itu yang meningkat seiring meningkatnya kadar lemak di tubuh hehehehe). Pagi itu, dengan wajah segan tapi memohon, ia berkata "Unii, uni mau gak cobain ini?" kata mama sambil menyodorkan testpack. Antara kesal dan ingin tertawa saya dibuatnya. Yaa, mama adalah mama. Sama seperti orangtua lainnya yang khawatir anaknya hamil diluar nikah. Tapi yang saya takjub adalah sikapnya yang amat sangat tenang didepan toilet rumah, sebelum saya pake tastpack itu, "Kalo hasilnya positif kan kita bisa pikirin langkah selanjutnya ya ni? syukur-syukur sih negatif". Ketenangannya membuat saya tenang. Saya pun yakin, walau saya hamil diluar nikah, saya tau ia tidak akan menghakimi dan meninggalkan saya sendiri. Ya, ia tidak akan pernah meninggalkan saya sendiri.


Ketika saya memutuskan menikah, ia cuma menatap saya dan bilang "Uni yakin? kalo yakin mama pasti dukung kamu", padahal saya tau pasti bahwa mama ketika itu belum menyetujui pasangan pilihan saya. Dan ketika papa bilang ia tidak akan datang pada pernikahan saya, mama membesarkan hati saya dengan bilang "Biarkan papamu dan kekerasan hatinya, kita berdoa aja semoga ia melunak. Masih ada mama kok".


Ketika saya pamit pindah ke jawa timur, mama bilang "Uni, kalo gak betah disana, kamu pulang ke mama ya nak. Kalo mau cerita, cerita yaa, jangan disimpen sendiri"


Ah mama, tidak ada satupun cerita yang kutulis dengan tidak menangis sambil tersesak-sesak. Siang ini, sambil menikmati kastengel kiriman mama, syukurku jadi berlipat ganda, aku senang karena tuhan menitipkanku padamu"




Hei Ibu Widiastuti yang jago kentut, aku kangen berat!!













Senin, 05 Oktober 2009

Tanjung Pacaran

Setelah berbulan-bulan gak berwisata, kemaren saya dan hubby akhirnya berwisata juga. Tempat yang dipilih adalaah pantai! yippiii! i love beach. Pantai tujuan kami bernama Tanjung Papuma, salah satu wisata unggulan kabupaten jember. Berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat kota Jember, Tanjung Papuma bisa ditempuh melalui dua jalan. Bisa dengan melewati Pantai  Watu Ulo yang menuju kesana kita akan menempuh jalan aspal mulus luruuuus terus (tapi jauh memutar), atau melewati hutan jati yang tembus ke jalan masuk tanjung Papuma. Kami? pilih hutan jati dooong. Selain lebih deket, jalur yang satu ini juga kayaknya lebih menarik. Mulailah perjalanan menembus hutan jati dengan jalan bebatuan yang lumayan bikin saya mual. Untung ada jalur kecil yang agak lebih mulus yang sepertinya biasa dilewati motor karena tracknya sudah terbentuk. Kesan pertama melewati hutan jati, saya takjub dan prihatin *halaah*. Prihatin karena saya kira hutan jati ini sudah mati karena kemarau tapi ternyata kata si hubby mereka terlihat hidup segan mati tak mau itu bukan emang bener mati tapi sedang berusaha bertahan hidup dengan menggugurkan daunnya. Alhasil, saya melihat hamparan jati kering kerontang tanpa daun. Menyisakan kesan sedih, suram, lonely. Persis tumbuhan pada halaman castil count dracula.













 

Sambil rada deg-degan, kami terus menembus hutan jati yang walaupun rada bikin merinding tapi kok indah ya. Tak lupa berdoa semoga tidak bocor ban, karena dimana pula nambal ban di hutan seperti ini! Oh itu ada mobil! oh senangnyaaa ada kehidupaan. Dan eeeh ada motor di belakang kami.  Asiik! dan eeeeh kok dia ngebut siiiih. Ih mau boker kali tu orang. Sendiri lagi deh. Saya bersenandung lirih *tsaah*, "Andaaaai dipisaaah! lauuut dan pantaaai! tak aaakan goyaaah gelowra cintaaah", lumayan mengalihkan pikiran saya dari deg-degan. Setelah menempuh perjalanan lumayan panjang, kami sampai di gerbang masuk Tanjung Papuma. Yihhiii!! pantai! aku dataaang! Tiket masuknya untuk dua orang plus motor cuma 11 ribu. Mursida ya mak! Jarak dari gerbang menuju pantai kira-kira 1,5 km. Tapi sebelum nyampe pantai, kita bisa putu-putu duluu karena kita akan melewati dataran tinggi dimana kita bisa melihat seluruh pantai dari atas. Mantap kali viewnya! 



Puas foto-foto dari atas, hayeeuk kita ke pantai. Bagai ikan dugong baru ketemu aer, saya langsung lari ke pantai dan kecupuk-kecupukan. Oh pasirnya putiiih. Oooh saya sukaaa. 







eh ada perahu baru mendarat. Sekitar 15 nelayan yang sedang duduk-duduk di bawah nyiur langsung menghambur menuju perahu, bersiap-siap mengangkat perahu ke darat. Satu dua tiga! tariiiik maaang!









Karena pengen foto berdua, tripod pun kami pasang (niat amat yaa bawa tripod) hihihiih. Diliatin orang karena kami berdua amat riweuh gaya sana gaya sini. Biarin dah! 




Tanjung Papuma ini salah satu pantai diantara deretan pantai lainnya. Tapi yang paling bagus dan yang paling teduh. (dipantainya sih panas, tapi di pinggir pantainya banyak pepohonan, beda sama Pantai Watu Ulo yang agak lebih gersang). Air lautnya yang biru kehijauan terlihat sangat kontras dengan pasir putihnya. Batu-batu besar yang berada tidak jauh dari pantai, seperti jadi coklat serut diatas tart *dasar tukang makan, analoginya gak jauh dari makanan*. Aaahhh saya memang tidak pandai melukiskan suasana, liat aja lah fotonya yaaa



 

 






selesai dengan bagian pantai yang ini, kami pun jalan ke tebing yang lumayan jauh disana. Disitu ada tebing batu berceruk dan spot yang bagus banget buat foto-foto, bahkan ransel saya pun betah disitu. 





Di bagian pantai yang ini ada satu cerukan mirip kolam kecil yang jadi pojok bahagianya muda mudi yang memadu kasih *halaah*. Disitu mereka bisa berendem sambil duduk, ciprat-cipratan aer, atau sedikit grepe-grepe dengan sembunyi dibalik batu. 




Kami gitu juga gak? gak dooong. Emang kita orang dewasa keren macam apa? Kita mah mending nyobain aksi spiderman! hahaha. 



Oh, di seluruh kawasan pantai ini semua sinyal seluler masuk kok, jadi jangan khawatir gak bisa dihubungi atau menghubungi. 




 Laper iihh. Cari spot dibawah nyiur, ndeprok deh. Setelah makan, kami makan rujak yang porsinya oh banyak sekalii, harganya pun murah. Segeeeer. Sambil nunggu  nasinya turun dari tembolok, si hubby motretin orang-orang. Ada pasangan ibu bapak yang oooh terlihat romantiss, berpegangan tangan. Atau sekelompok anak muda yang ngubur temennya pake pasir. Lihat perbuatan mereka. Bok! inget aja siiih sama yang satu ituuu!



 

 


Pergi berwisata, tak lengkap tanpa mengitari seluruh bagian tempatnya. Itupun yang kami lakukan. Karena area pantai ini sangat luas jadi banyak tempat yang bisa kami jelajahi. Di ujung lain dari pantai ini ada hutan. Kami pun menuju kesana. Dalam perjalanan kesana tentunya kami melewati pinggir pantai dan tentunya pulaaa banyak yang indehoy. Dengan sembunyi dibalik pohon rimbun, mereka berpelukan, ada yang dikit-dikit cium, ada yang sundul-sundul kepala pasangannya persis kayak kucing lagi pacaran, ada pula pasangan senior *ya oloo bahasa!* yang milih tempat paling ujung. Paling deket ama hutan hahahaha. Kata si hubby mereka pasti selingkuh, eeeh padahal kan bisa ajaa lagi nostalgia yaaa, atau ya emang lagi pengen pacaran aja kali.  



Kami diam sebentar di dekat situ. Duduk-duduk, foto-foto, larak lirik orang pacaran, dan akhirnya memutuskan pulang karena batere kamera udah abis.  Lain kali, pengen deeh sekalian nginep di bungalownya. Yup! di pinggir  pantai Tanjung Papuma ini memang disediakan beberapa bungalow. Keliatannya nyaman. Cocoklaaah kalo kita pergi sama keluarga. Sarana umum juga lengkap. Toilet gampang, mesjid ada, wartel ada, apalagi tempat makan! hehhehehe. Tapi sayang, gak ada satupun tempat sampah. Kok isoooo? alhasil, pasir putih yang seharusnya jadi lebih indah tanpa sampah jadi seperti iniiii. 




Tapiii sebagian besar penilaiannya siiiih, pantai ini layak banget untuk jadi tujuan wisata!!!





Sabtu, 26 September 2009

Tak tahu diuntung

Saya berkantor di sebuah radio yang berada di daerah yang gelap gulita, dataran tinggi dan sering dilewati para petani sayur yang tiap malam mengantarkan dagangannya ke pasar. Setiap pulang siaran saya menggigil kedinginan dan setiap kali pula saya menggerutu, kenapa sih saya dapet jam siaran sama dengan waktunya para kunti mulai gentayangan? kan dingiiiin, apalagi angin malam jember itu dinginnya laknat banget!. Tapi saya jadi malu terus-terusan menggerutu ketika dalam sebuah perjalanan pulang saya melihat seorang bapak tua kurus bertelanjang dada, memikul dua keranjang bayam, jalan menuju kota. Kata si hubby, para pedagang sayur itu biasanya berasal dari desa dan itu cukup jauh dari kantor saya, dan mereka jalan kaki dari sana. Entah berapa kilometer. Melewati tanjakan, turunan, kadang saya lihat mereka menggunakan sepeda kumbang yang harus dituntun ketika mereka melewati turunan curam didepan kantor saya, dan membayangkan mereka memapah sepeda mereka di tanjakan yang cukup tajam dengan muatan sayuran yang amat banyak, sudah membuat saya lelah pun.

Kalo saya kira-kira, harga sayuran itu pastilah murah. Di pasar, satu ikat bayam saja cuma seribu rupiah, pastilah harganya lebih murah lagi kan kalo dari tangan petaninya langsung. Jika dalam semalam para petani ini bisa membawa 50-100 ikat bayam, yaa taruhlah satu ikatnya 250 rupiah, rata-rata mereka membawa pulang cuma 12500-25000 rupiah. Pantaslah jika saya malu. Saya bekerja sangat enak, cuma dua jam, di tempat yang nyaman, gak berat bawa-bawa sayuran, bisa nyanyi tereak-tereak, bebasss, dan jelas dapat bayaran lebih besar dari para petani sayur. Haruslah saya malu. Kok berasa jadi anak manja banget ya. Tuhan sudah kasih saya pekerjaan enak, saya masih menggerutu  pun! Tuhan sudah kasih saya penghasilan yang cukup, saya selalu bilang "jauh bangeeet sama gaji gw yang di bandung". Yang saya lupa adalah bahwa saya bukan lagi berada di bandung. Bukan lagi berada di kota besar yang memberikan saya penghasilan lebih dari cukup untuk hidup satu bulan.

Sekarang saya berada di sebuah kota yang standar penghasilannya lebih rendah dari Bandung. Sebuah kota dimana saya masih melihat petani sayur berjalan kaki setiap hari dari rumah mereka nun jauh disana menuju kota cuma untuk dapat penghasilan kurang dari 20 ribu.  Sebuah kota yang selalu menyajikan pemandangan menghenyak hati dikala malam. Ya, saya harus malu. Karena telah luput bersyukur atas apa yang saya dapatkan sekarang. Karena telah sangat sulit menerima kenyataan pada keberadaan saya sekarang. Dan betapa manjanya saya karena tidak mau me-reset standar saya. Dan betapa bodohnya saya karena tidak mau bersikap realistis sejak awal, padahal dengan menjadi realistis, saya pasti akan lebih mudah menjalani hidup di habitat yang baru ini. Yup, ternyata diri sayalah yang jadi biang masalahnya.

Kamis, 24 September 2009

GARING JUGA!!

Lebaran pertama jauh dari si mamah. Sedih sangat. Kangen rumah

Malem takbiran di Bondowoso. Berisik! hahaha! banyak anak-anak pengikut Noordin M Top bakar petasan segede dosa! asli mereka sambil tereak "M Top! M Top!!". Ihhh anak-anak sakit jiwa!

Lebaran di Bondowoso ternyata sama aja. Salam-salaman cuma ampe jam 10-an, udah itu sepi gila ini desa! di bandung juga gitu. eh ada bedanya deng! disini gak ada ketupats!! soalnya lebaran ketupatnya seminggu setelah Idul Fitri. Alhasil, gigit jari dah gw

Lupa maap-maapan sama suami hahahaha. Salaman ama orang lain udah, salaman ama laki sendiri baru sore. Dodol

Besoknya pulang ke Jember, buka warnet seperti biasa. Penuh bok! anak-anak mulu yang pake. Lagi banyak angpaw rupanya mereka, dan teteeeep yang dibuka narutoxxx hahahahaha! haduh! prihatin deh tante popi pada anak-anak sekarang


Malem-malem ada bapak paruh baya pake internet. Pake kopiah haji dan baju koko. Kirain buka situs islami-islami itu lah, pas diliat historynya, GAMBAR BOKEP JUGAAA!!! HAHAHAHAHAH

Hari kedua lebaran tetep siaran, jadi stuntwoman penyiar laen yang mudik. Di kantor sendirian, pas ngambil minum ke dapur, kok keluar-keluar, tangan dan baju saya bau banget rokok kretek! eh tapi kok gak ada siapapun disitu! alhasil, selama siaran saya merinding disko


Melakukan percakapan dudul lewat sms dengan seseorang yang saya kira......

Sms diterima : "Sesama saudaraku umat muslim, minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin. Sonny dan keluarga"

Sms dikirim : "Hihihi bahasanya sonny kayak anak buahnya noordin M top dehhh, pake sesama saudaraku umat muslim hihihihi"

sms diterima : "kan emang pernah berguru hehehehe. Lebaran dimana?"

sms dikirim : yaa di jember aja. Gak balik ah gw

Sms diterima : "enak ya lebaran ini kita bisa liburan"

Sms dikirim : "Iya ya, lepas dari kerangkeng ya son" (dari awal sms saya mengira dia adalah Sonny, pacar sobat saya si Mbok Darmi, yang memang sedang menjalani in house training dan gak bisa kemana-mana, tapi mungkin mendapatkan liburan sebentar saat lebaran)

Sms diterima : "IYa nih. bebass hehehe jadi bisa liburan di kampungnya istri di Jawa Tengah"

saya mulai mikir, HA? istri di jawa tengah? ini sonny yang mannaaaaa? dan saya pun berhenti membalas sms beliau hehehehe.

Ah lebaran ini saya benar-benar kangen rumah!!

Sabtu, 19 September 2009

Chewyy




Look at Chewie
I don't think he feels comfortable for that fucking so called space shoes
Yang punyanya bilang "Oooh chewiiie, you're soo cuute". Ih sakit jiwa! anjingnya jelas-jelas pengen ngelepasin sepatunyaa. Antara kesakitan or he hates of being a space cowboy

poor little fella

Rabu, 09 September 2009

Penonton kecewaaaa


Sayangnya, sejak kecil saya dibesarkan oleh cita rasa makanan yang tob banget! jadinya lidah saya udah terlanjur punya standar yang tinggi *tsaaah* untuk makanan. Alhasil, standar ini yang saya pake ketika makan dimanapun. Sebagai orang yang lahir dan besar di Bandung dan memang seneng makan terutama makan yang enak-enak, tentulah lidah saya sangat dimanjakan oleh Bandung. Dalam posting sebelumnya soal bakso, saya bilang kalo Bandung itu surganya makanan. Bukan cuma bakso, makanan apapun di Bandung itu sebagian besar enak, salah satunya bubur ayam. Saya masih inget, ketika masih di bandung, saya senang sekali sarapan di bubur Mang Oyo yang di deket sulanjana. Tempatnya adem, ada pohon rindang, jadi seger banget kalo pagi-pagi. Tapi gak cuma makan bubur di bubur yang udah beken banget seantero Bandung ini, saya juga seneng makan di jongko-jongko bubur ayam pinggir jalan. Dan seperti yang saya bilang sebelumnya, makanan Bandung itu sekalipun yang di pinggir jalan, enak! Dengan kerupuk yang biasanya dimangkokin sendiri, and i'm talking about a big portion of  kerupuks! dan boleh nambah pula! dan gratis pula!!! Ah asoy banget kan buat para pecinta kerupuk. Kalo di bubur Mang oyo malah lebih asoy lagi. Bukan cuma kerupuknya yang di piring sendiri dan banyak! tapi juga seledri dan kacang kedelenya. Jadi ada tiga piring tambahan selain piring bubur kita yang porsinya muntuk-muntuk itu!. Seperti dibawah ini gambar Bubur Ayam Mang Oyo. Terlihat mantab kan? ! emang mantab!




 Gambar diambil dari sini

Nah, berangkat dari kesukaan saya pada Nyabu (nyarapan Bubur), saya pun jadi kangen bubur ayam pagi ini. Karena ada siaran pagi, saya baru bisa siang makan bubur. Nanya sana-sini, teman-teman kantor merekomendasikan sebuah brand bubur yang katanya bubur terenak disini. Dengan semangat 45, di tengah terik matahari, saya pun nyari bubur ini. Begitu sampe, mmm okee, tempatnya bersih, homy, semoga enak! *menyilangkan dua jari*. Saya pun pesen yang spesial, karena kata si mba nya, kalo yang spesial itu toppingnya lebih banyak. Kalo di Bandung kan, makanan yang ada kata spesialnya yaa biasanya emang S-P-E-C-I-A-L, gak pake nyesel deh walaupun udah bayar mahal. Worthed! Nah, itu pula yang saya harapkan dari bubur ayam ber-merk Ibu bernama mirip dengan salah satu penyanyi keroncong Nasional ini. Begitu pesanan datang, eng ing eeeng! buburnya encer, porsinya dikit, toppingnya cuma beberapa potong cakue tipis, beberapa iris ayam dan sedikit suiran bawang. That's it?! Iyaa!!! segini ajjjaaa! DAN TANPA KERUPUK!! dan itu semua harus saya tebus dengan harga 10 rebu perak! ih bukan soal 10 rebu nya, tapi kok berasa gak worthed ya? Hampir menangis saya *lebay dikit ah*. Sejenak terbayang bubur ayam di Bandung yang buburnya bisa gak tumpah walaupun mangkoknya dimiringin sehingga nampol banget di perut orang laper, dengan topping ayam dan ati ampela yang nutupin permukaan buburnya, ditambah taburan cakue dengan irisan yang tebal lagi banyak, lalu dihiasi dengan warna hijau dari seledri dan daun bawang segar, masih ditambah prentilan kacang kedele. Dan melihat porsi bubur serta toppingnya, membuat saya berpikir, pedagang Bandung emang bikin makanan pake hati. Makanan dengan harga dibawah 10 ribu dibuat sebanyak dan seenak ini, sudah pasti mengurangi margin keuntungan. Baik kan?! Mana kerupuknya dipisah pula!!! banyak lagi! boleh nambah pula!. Yaa tapi gimanapun, ini so called bubur terenak di Jember harus saya abisin juga, udah bayar bok! ogah rugi guwe! hahahaha. Dalam perjalanan pulang, saya membuat daftar di kepala, jongko-jongko makanan yang harus saya makan kalo saya pulang ke Bandung, dan dijamin, saya akan menggembung seperti ikan buntal sekembalinya ke jember hehehehe.

Minggu, 30 Agustus 2009

Dari curhat si dokter




Barusan aja saya chatting dengan seorang dokter muda yang ganteng, baik hati, penyabar,idealis dan gak money oriented, tapi mukanya suka mesum hahahahaha. Ah idaman banget dah dokter yang satu ini. Saya kenal beliau beberapa tahun lalu sejak ia menjadi narasumber talkshow kespro di radio tempat saya kerja. Dan sejak itu kami berteman baik. Si dokter ini sempat berhenti jadi narsum di radio saya, tapi kemudian setahun lalu, dia bilang sama saya pengen siaran lagi. Ah itu yang saya tunggu!. Ya saya langsung bilang ke manajemen, dijawab dengan anggukan setuju dan sang dokter pun kembali jadi narsum kami. Tadi, dia cerita kalo dia udah gak lagi siaran di radio tempat saya kerja dulu, katanya cara orang-orang sekarang ngelola program beda banget sama waktu era saya dan teman-teman dulu (cieee). Katanya manajemennya aneh, orang-orang yang ngelola programnya gak profesional, penyiarnya kurang menaruh perhatian pada programnya (masa ketika siaran pun buka FB), gak ada pembicaraan preshow antara narsum dengan penyiar dan produser. Jujur, saya sedih sekali dengan curhat sang dokter. Bukan cuma karena beliau itu narasumber yang baik yang sangat layak dan harus dipertahankan, tapi karena bahwa orang-orang yang seharusnya memberikan cinta pada program yang mereka kelola ternyata tidak melakukan itu.

Selama saya menjadi bagian dari sebuah program (yang kebanyakan talkshow), baik menjadi penyiar atau produser, adalah sebuah keharusan untuk menjaga hubungan baik dan chemistry dengan nara sumber, dan gak cuma itu, mengkayakan diri dengan wawasan yang terkait dengan muatan program pun menjadi keharusan. Mengelola talkshow itu seperti mengelola sebuah pertemanan. Atau kalo mau dipikir lebih ekstrim lagi, mengelola program itu seperti mengasuh seorang anak. Kita memberikan perhatian, kesungguhan, dan fokus penuh pada segala elemen talkshow mulai dari yang terkait dengan kemasan, personnya (siapapun orang yang terlibat baik penyiar, produser, pendengar atau elemen SDM lainnya), sampe maintenance acara dan orangnya. Soalnya acara yang dikelola dengan tidak sungguh-sungguh itu kerasa banget di udara dan didengar jelas oleh pendengar. Dan adalah sebuah pantangan mengecewakan nara sumber.

Makanya membangun dan menjaga hubungan baik dengan narasumber adalah sesuatu yang sangat penting. Talkshow yang terdengar enak dan informasinya nyampe dihasilkan dari kerjasama yang baik antara semua elemen talkshownya. Jadi ketika ada satu aja bagian yang mengganggu atau terganggu, maka rusaklah semua sistemnya. Makanya saya sedih banget pas baca curhatan si dokter. Sayang sekali bahwa airtime sejam yang seharusnya dimaksimalkan untuk menyampaikan informasi buat pendengar, ternyata jadi gak efektif cuma karena ulah produser dan penyiar yang gak ngasih perhatian penuh pada program yang mereka kelola. Karena sekali kita menjadi bagian dari sebuah program, maka is a must untuk memberikan cinta sepenuh hati pada program itu. It'll help us to grow better.