Minggu, 24 Januari 2010

Before and After

Saya baru selesai nonton Oprah show dengan bintang tamu Star Jones yang berhasil menurunkan berat badannya ratusan pon karena operasi bypass lambung, pilates dan yoga. Di tengah talkshow, ada cuplikan foto-foto star dalam berat 300 pon, dan ingatan saya seperti dikembalikan ke masa lalu ketika ia bilang "kau masih bisa bahagia ketika beratmu 250 pon, tapi ketika beratmu sudah 300 pon, cara berpikirmu akan berubah". It's just like me.

Sejak kecil, saya tidak pernah benar-benar memikirkan berat badan. Yes, i'm happy with my body. Tapi saya mulai takut ketika jarum timbangan itu sudah menyentuh 90 kilo. Ya ampyuuun, 10 kilo lagi saya akan seperti karung-karung beras di gudang Bulog!

Banyak sekali hal yang berubah ketika berat saya makin bertambah, terutama setelah 90 kilo. Nafas saya gak bisa panjang ketika siaran, di headphone saya bisa mendengar dengan jelas suara nafas saya yang terengah-engah, saya gak bisa lagi jalan jauh apalagi motret-motret ke pegunungan, saya mudah lelah dan gak bisa lagi jalan kaki kemana-mana padahal saya sangat suka jalan kaki, dan beberapa perubahan lainnya yang semuanya berujung pada penurunan kualitas hidup.

Pada hari pernikahan saya, berat badan saya lebih satu kilo dari 90. Saat akad dan pidato pernikahan dari penghulu yang ya ampyuuun lama beneer, pantat dan betis saya yang ketika itu harus tertekuk lama harus disanggah oleh bantal agar saya bisa tetap duduk dengan bener. Tapi setelah disanggah pun saya tetep gak bisa diem karena kedua kaki saya sangat kesakitan. Saat itulah saya bilang pada diri sendiri, saya tidak bisa begini terus. Hidup saya harus berubah.

Sejak dulu saya memang pengen nurunin berat badan, tapi semuanya OMDO, omong doang. Sering banget saya bilang ke temen-temen deket saya kalo saya pengen kurus, tapi kebiasaan makan enak juga gak berhenti. Nah, ketika kondisi saya sudah mulai membuat saya takut, saya ingat sebuah obrolan dengan teman. Diet atau niat menurunkan berat badan itu  harus menjadi way of thinking and way of living. Tadinya ini cuma konsep buat saya. Tapi ketika saya pindah ke kota lain, memulai kehidupan yang baru, jauh dari kota dengan sejuta godaan kuliner, saya memutuskan untuk mewujudkan konsep ini.

Untungnya juga saya punya suami yang gak begitu doyan daging (baik daging merah maupun putih), jadi saya cuma masak sayur-sayuran, tahu, tempe, paling banter ya telor. Saya rasa ini yang disebut way of living. Saya pun jadi terbiasa makan protein nabati, dan akhirnya, tubuh saya pun jadi seperti menolak daging-dagingan. Kalo makan daging langsung mual. Saat saya ke pasar dan melewati kios daging dan ayam, saya pun mual, padahal dulu-dulu mah biasa aja. Setelah terbiasa dengan protein nabati, saya mulai mengurangi porsi makan sampai sepertiga dari porsi biasa. Setiap hari begitu. Susyaaah maaak! Ruangan di perut saya yang banyak kabinnya ini menghendaki isi yang lebih banyaak. I want moooore! but hey, no pain no gain kan. Saya siasati dengan makan lebih sedikit setiap kali makan tapi frekuensinya saya tambah. Kalo biasanya 3 sekarang jadi 4. Dan perut saya lama-lama terbiasa. Lalu saya pikir, ah ini belum cukup. Frekuensi makan pun harus saya kurangin. Lalu saya perbanyak minum dan mengurangi frekuensi makan, satu kali aja. Dan ternyata berhasil. Sekarang, saya makan 3 kali sehari dengan porsi yang sedikit. Apa yang terjadi? pencernaan saya beradaptasi dengan baik. Kalo makan lebih banyak dari porsi yang sekarang, saya mual lalu muntah. Naah kalo gini kan lambung kita udah beradaptasi sendiri, dan gak perlu operasi bypass lambung hahahaha!

Oh, saya pun mulai bersepeda tiap pagi (dan untuk ini, saya bela-belain belajar naek sepeda tengah malem karena malu diliat orang, ih masa udah segede gini baru belajar naik sepeda).

Suatu hari saya ke supermarket dan liat timbangan badan. Karena belum punya timbangan sendiri dan udah 6 bulan gak nimbang badan, saya pun dengan semangat 45 menaiki timbangan itu. Sambil tolah toleh dulu doong takut ketauan pelayannya, tengsin kan boook. Ternyata sodara-sodara! berat badan saya turun 11 KILO! dan saya menangis haru. Sejak lama ingin menurunkan berat badan tapi gak pernah berhasil dan harus kena diare dulu 5 hari untuk bisa turun 2 kilo (lalu naik lagi 5 kilo hehehe), sekarang saya berhasil membuang 11 kilo dalam 6 bulan! Ini prestasi terbesar dalam hidup.

Kemudian saya hamil dan ternyata, berat badan saya susah naik lagi. Saya terbiasa makan sedikit dan gak suka daging, tapi harus makan daging demi gizi si janin. Makanya saya imbangi pake ngemil roti dengan selai coklat atau keju. Tapi teteeep susah naik karena berat badan saya cuma naik 4 kilo dalam 6 bulan. Yaa sebenernya masih wajar sih, tapi begitu saya kasih liat foto saya ke sobat saya, mbok darmi, dia bilang "Popiiih! kamu kurus sekaliiiiiiii!" hihihihihih ok, saya mesti nambah berat badan nih. Sigh...

Dibawah dua foto saya dulu dan sekarang. Bok, udah kayak iklan obat pengurus badan ya ada before and after hahahaha!




Dulu



                                               Sekarang

Rabu, 20 Januari 2010

Mertua-Menantu, ohh...

Being Merried means compromising a lot! dan ini yang banyak saya pikirin ketika akan menikah. Kalo berkompromi pada segala macem tentang suami saya sih yaaa soo soo laaah, tapi selain dia? Naaah tau kaaan kemana arahnya "selain dia" ituuu. Tadi sore saya ngobrol sama ibu mertua. Beliau adalah mertua yang sangat-sangat baik. Selalu suportif, pengertian, tidak banyak menuntut karena pada dasarnya ia adalah perempuan jawa yang falsafah utama hidupnya adalah menerima segalanya dengan lapang dada. Jadi...dengan lapang dada pulalah dia menerima saya yang begini ini sebagai menantunya hahahaahah! 


Tadi beliau dengan semangat menceritakan calon menantu om nya suami a.k adeknya ibu mertua saya. Katanya, setiap nginep dirumah si om, calon mantunya ini rajiiin banget ngerjain segala kerjaan rumah tangga. Ya nyuci baju, nyuci piring, nyetrika, dan laen-laen deh. Pokoknya tipe istri ideal lah kalo menurut persepsi kolot or should i say persepsi patriarkal hehehehe. Dan ibu mertua saya pun terpana dengan kerajinan si calon mantunya om. Lalu melewati  jendela dapur, saya menatap ke halaman belakang, disitulah tergantung buanyaaaak sekali baju saya dan suami yang tadinya mau saya bawa ke laundry tapi belum sempet aja dan begitu tadi pagi saya bangun ternyata ibu mertua sudah mencucikan semua baju itu hahahaha. Okee okeee..sepertinya inilah saatnya semua penonton berteriak "mantu kurang ajiaaar!" hihiiihihih. Yaaa yaaa saya memang bukan tipe istri rumah tangga yang telateen banget ngerjain segala macem kerjaan domestik. I produce radio show, i made an off air concept, i made a commercial, but i don't do laundry. Mending saya kirim ke laundrette sehingga saya menghemat waktu dan tenaga buat nulis dan melakukan hal lain. Dan saya juga malas mencuci piring. Pekerjaan domestik yang saya sukai cuma nyikat kamar mandi karena saya emang betah berlama-lama di kamar mandi makanya itu tempat semedi saya mesti bersih. Dan ketika ibu mertua nyeritain calon mantu nya om yang rajin itu, kok saya jadi ngerasa gak enak ya sama ibu mertua. Mungkin dengan bercerita itu beliau berusaha menyampaikan ekspektasinya pada saya. Yaaa beliau memang tidak pernah komplain dengan saya yang begini, tapi pasti ada sebersit keinginan dalam hatinya bahwa saya bisa menjadi mantu yang sangat cihuy untuk urusan domestik, mengingat beliau pun cihuy bener untuk urusan domestik. Eeee kok saya jadi ngerasa bersalah ya. Jangan-jangan saya memang sudah mengecewakan ekspektasinya.

Sabtu, 19 Desember 2009

Bebe...

Anakku sayang,

Tidak mudah menerimamu ada di tubuh mama. Mama tidak tumbuh dengan konstruksi bahwa perempuan harus menjadi ibu nantinya. Nenek kamu pun tidak menyiapkan mama untuk menjadi ibu. Ia lebih memilih untuk membiarkan mama tumbuh seperti yang mama inginkan. Jadi menerima kehadiranmu dalam hidup mama, bukan sesuatu yang sudah dipersiapkan. Kamu benar-benar merupakan kejutan. Kejutan yang ajaib.

Ketika 6 bulan lalu, di layar itu terlihat sebuah bundaran kecil, mama kaget. Karena ini benar-benar diluar dugaan. Mama mengalami kesulitan untuk memiliki ikatan batin denganmu. Semua mama lewati dengan datar-datar saja. Butuh usaha keras untuk memunculkan ikatan batin itu.

Baru ketika bundaran kecil tadi tumbuh pesat dalam satu bulan, dan secara ajaib, bulan berikutnya, di layar itu sudah terlihat sebuah kepala kecil, lengkap dengan tangan, itulah saat ajaibnya.

Pertama kali melihatmu, mama tak bisa berhenti menangis. Rupanya, beginilah rasanya.
Mengetahui ada seorang manusia tumbuh di rahim mama adalah sebuah kelucuan yang ajaib
Mama tidak bisa berhenti tersenyum sendiri, lalu menangis, lalu tersenyum, lalu menangis lagi, ketika melihat fotomu dengan kepala kecil itu.


Lalu sejak sebulan ini kamu sudah lincah bergerak dan menendang, ikatan itu jadi makin kuat. Pertama kali merasakan tendangan kamu, mama menangis. Kamu bergerak sayangku. Kamu sudah bisa mendengar mama ngobrol sama kamu, dan tiap mama siaran dangdut, tendangan kamu makin sering. Apakah kamu sedang goyang-goyang didalam sana?

Tak terbayang jika tiba-tiba kamu direnggut dari mama
Seperti lagu Barry Manilow yang tiap hari mama nyanyikan buat kamu "You know i can't smile without you. can't smile without you. I can't laugh, and i can't sing. Finding it hard to do anything. You see i duuu duuuu"
Mama gak bisa senyum lagi, gak bisa ceria.

Kamu yang bikin mama merasa harus kuat setiap hari, di tengah situasi sesulit apapun
Maafkan mama ya nak, kamu ikut menanggung semuanya
Kata sahabat mama, Mbok Darmi yang suka tengil itu, kamu akan jadi anak yang kuat suatu hari nanti
Mama yakin juga begitu. Kamu akan bisa bertahan menghadapi semua yang datang dalam hidupmu.
It's in our blood. Buyutmu, Nenek, mama, lalu kamu. 

Kamis, 17 Desember 2009

Suara pun Bergoyang

Sudah lebih dari satu bulan ini saya gantiin penyiar lain yang cuti melahirkan. Bawain program dangdut.  Oh sunggguhpun awalnya saya mabuk bukan kepayang. Bawain program ini ternyata menyiksa! Dua jam berada di studio, memilih lagu, menerima telpon, semuanya gak saya nikmati. Ya, saya memang aslinya gak suka dangdut, walau saya senang dengan kajian segala jenis music, termasuk dangdut. But to listen to it over and over? Membunuh pelan-pelan! *lebaaay*. Setiap hari nerima request lagu bang haji adalah sesuatu yang ooooh sungguh mengganggu. Ya, saya memang bener-bener antipati pada bapak yang satu itu. Seorang temen kantor bilang, katanya para pendengar dangdut  itu sulit sekali diajak “lebih berisi”, dan kebetulan penyiar sebelumnya itu rada Malaysia book buat menambah “isi” acaranya. Dia dan pendengarnya maunya denger lagu dan request doang. Hmmm..tantangan nih! Udah dengernya dangdut, masa mau bego juga?! Lalu saya mengubah konsep acaranya. Pengennya acara itu bukan Cuma request. Eh ternyata kok sambutannya bagus banget. Yang telpon sekarang bukan Cuma request, mereka udah mulai terbiasa dengan rangsangan-rangsangan informasi  dan ternyata they want more! Bahkan ketika saya bilang mau datengin nara sumber buat segala talkshow, mereka sangat semangat kasih masukan tema. Lalu 2 hari lalu, datanglah sambaran petir di siang hari itu *JLEGARRR JLEGERRRR! WUUUSHHH* (CERITANYA PETIR DAN ANGIN). Bos saya bilang “Pop, mulai januari 2010 kamu permanen yaaaa jadi host acara itu. Oh! Jadinya 3 jam!”. Mampus aku inaaang! Bunuhlah aku dengan pedangmuuu *ya olooo melodi lagu dengdeus yang ini kok tiba-tiba nyelonong di kepala*.  Temen-temen saya yang ingin menjerumuskan saya pada lembah hitam kenistaan itu sontak bersorak kompak “IYAAA! SETUJJJUUUU!!”. Kampret kalian semua! Kompak pula mereka dengan alasannya. Katanya acara dangdutnya jadi  “ngota dan pinter” setelah dibawain sama saya. Iyee! Acaranya jadi ngota, gw jadi gila! Membawakan acara itu selama dua jam aja udah mimpi buruk, ini 3 JAM!!! Ini sih lebih dari mimpi buruk jadi kenyataan. Pas kemaren saya cerita sama suami kalo saya bakal jadi permanent host acara itu, dia ngakak jaya. Monyong!

“Ya Allah, kuatkanlah iman hambaaaa untuk menerima takdir iniiii” *dengan gigi gemerutuk dan suara bergoyang*. Tuuuh kaaaan gw udah mulai dangduuuut. Suara aja bergoyang! Oemjiiii, sepertinya saya kena tulah setan dangdut! Teeerlaaaluuu








Senin, 14 Desember 2009

Arung jeram

Udah lama banget saya gak naik kendaraan umum, terutama bis. Namun tadi, akhirnya saya naik bis juga. Lumayan lama, satusetengah jam. Kembali lagi satu tempat dengan segala macam bau. Kalo istilah temen saya, itulah bau realita. Sedangkan aroma segar yang kami cium di kantor, diruang ber-ac yang manusia seisinya berpakaian bersih dan memakai parfum, itu bukan bau realita. Di bis pula biasanya saya bertemu dengan berbagai macam kisah, berbagai macam manusia. Dari yang nyebelin, sampe yang membuat saya merenung. 


Tadi, di sebelah saya duduk seorang bapak berusia 60-an tahun. Ia lalu bercerita banyak. 40 hari lalu istrinya meninggal. Tiba-tiba anfal karena stroke, dirawat satu hari dirumah sakit lalu meninggal. Sejak itu hidup sang bapak berubah. Seperti kehilangan separuh jiwa, begitu bapak itu mengistilahkan kehilangannya. Pandangan bapak itu seperti menerawang ke masa lalu tiap kali bercerita tentang kelebihan istrinya. Dan wajahnya langsung sedih ketika ia bilang "selama bertahun-tahun mendampingi saya, tidak pernah istri saya menyakiti hati saya. Ia punya kesabaran luar biasa. Selalu ingat menolong orang lain, dan ia pribadi yang sangat bijak". Waw, kata-kata itu pastilah berasal dari rasa hormat yang sangat dalam. Bapak itu juga bercerita bagaimana istrinya selalu memberikan pertimbangan-pertimbangan yang sangat rasional, dan ini menjadikan ia partner dan penasehat yang sangat hebat. Then i think, what a perfect relation they've had. Selama bapak itu bercerita tentang istrinya, saya cuma mendengar tentang kekaguman, rasa hormat yang dalam dan penghargaan yang tinggi terhadap istrinya. Cerita bapak itu membuat saya merenung selama perjalanan. 

Dalam dunia yang depresi seperti sekarang, masih bisakah kita punya cukup kepekaan untuk memperlakukan orang lain dengan baik? Gak usah dulu ke orang lain, ke pasangan sendiri aja deh. Di tengah dunia yang serba instant, masih punyakah kita cukup kesabaran untuk selalu melihat sesuatu dari esensinya?. Bapak tadi dan istrinya, adalah generasi dari masa lalu, ketika nilai-nilai moral masih jadi dasar berperilaku. Yaaa walaupun tiap-tiap jaman memiliki kesulitannya sendiri, dan tentulah tidak adil menjadikan "gangguan minimal" yang dimiliki jaman bapak tadi dan istrinya bertumbuh sebagai bentuk pembelaan atas carut marut jaman ini. Ya, kita semua, yang dikatakan generasi sekarang, tumbuh di tengah jaman yang sangat kacau. Jaman yang menganggap nilai moral cuma retorika.  Kemudian saya berpikir lagi, is it too hard for us to be a good person? terlalu sulit atau kita terlalu malas untuk melawan arus?

Minggu, 06 Desember 2009

Email seorang teman

Sebuah imel saya terima dari  seseorang bernama Via, setelah saya memposting tulisan yang ini, isinya begini :



"Dear mbak brokoli, saya gak sengaja mampir ke blog mbak, dan membaca postingan Angelus Ferutus. Easy for you to say. Kamu bukan korban kan? mungkin mudah buat orang yang gak ngalemin kekerasan untuk ngomong "kuat dong! kamu pasti bisa!", tapi kenyataannya, susah! saya korban kekerasan fisik orangtua saya dan ini membuat saya jadi gak percaya diri, dan jadi lebih sering nyalahin diri sendiri. Saya pengen gak begini, tapi semuanya udah terlanjur membentuk saya"

My dear via, seandainya saya bukan korban. Tapi sama denganmu, saya pun punya latar belakang yang menyakitkan berkaitan dengan kekerasan. Untuk temen-temen yang baca ini, let me share my story. Saya tidak ingin dikasihani, dan tolong jangan kasihan, karena, puji tuhan, saya sudah sampai pada tahap "done with the past".

Memiliki keluarga yang bahagia, punya orangtua yang utuh dan penuh kasih, tentunya jadi impian semua orang. Tapi sayangnya, ini tidak terjadi pada saya. Dari kecil sampai sekarang, saya cuma mengenal kasih sayang mama. Ia bukan janda, tapi mengalami nasib seperti para janda, karena ayah saya kurang bertanggung jawab pada keluarga. Ia mengabaikan kami, tidak berperan sama sekali dalam setiap fase pertumbuhan anak-anaknya (setelah dewasa, saya tahu bahwa ia memiliki keluarga lain), sehingga akhirnya, mama saya mengambil semua peran, sampai saat ini. Karena itu ia harus bekerja ekstra keras agar kami dapat makan dan sekolah. Supaya ia dapat bekerja seharian, saya dititipkan pada nenek. Bukan sepenuhnya salah nenek, jika  yang ia lakukan kemudian pada saya adalah bentuk kekerasan terhadap anak dan kekerasan dalam rumah tangga. Ia tumbuh di masa lalu yang penuh kesulitan. Hidup di jaman penjajahan dan harus menghidupi banyak anak sendirian tentunya bukan hal yang sama sekali mudah. Ia pun sudah sangat terbiasa dengan kultur kekerasan, sehingga cuma cara itulah yang ia tahu. Jadi ketika ia menyeret saya puluhan meter dan memukuli saya pakai sapu lidi  cuma karena saya maen keluar pager, saya cuma bisa nangis. Saya tidak benci dia, terutama ketika setelah dewasa, dari mama saya mendengarkan kisah hidup nenek yang sangat pedih. Lalu saya mengerti siklus itu. 


Bukan cuma dari nenek saya mendapatkan perlakuan penuh pukulan, hinaan dan you name it lah. Dari orang lain dirumah nenek pun saya dapat. Semua perlakuan itu menciptakan sebuah trauma. Saya jadi senang ngumpet di kolong-kolong setiap  kali merasa takut, lalu mulai menciptakan  melodi-melodi asal bunyi dan mulai bersenandung dengan harapan dapat melupakan apa yang terjadi barusan. Dan pada akhirnya, saya menarik diri dari pergaulan teman-teman sebaya, karena bermain berarti mengulangi penderitaan. 

Pada saat yang sama, sekolah yang tadinya menjadi tempat pelarian saya, ternyata menjadi tempat yang justru memberikan kengerian berikutnya. Popi kecil yang periang, cerewet, pemberani tiba-tiba berubah karena seorang guru melakukan kekerasan seksual padanya. Ini terjadi beberapa bulan, sampai menjelang saya kelas 3 SD. Setiap saat saya merasa ketakutan, terutama jika ia sudah memanggil satu persatu anak perempuan ke mejanya untuk membacakan isi CBSA keras-keras. It was nightmare dan saya benci cbsa. Tapi apa yang bisa dilakukan seorang anak kecil kelas 2 sd? saya baru berani bilang ke mama saya setelah saya kelas 3. Lalu mama lapor ke sekolah, dan diadakan penyelidikan, lalu terurailah kebenaran. Bukan cuma saya korbannya. Si guru dipecat. Kok cuma dipecat? Jangan tanya saya, tanyalah kepala sekolah SD saya hehehehe. Kalo kata imel dari Via, ia jadi tidak percaya diri, well, sama. Saya pun begitu. Gak cuma gak percaya diri, tapi selama bertahun-tahun sampai dewasa, luka itu tetap ada, beserta traumanya. Muka laki-laki itu dan apa yang dia lakukan ke saya sering banget nyelonong jadi mimpi buruk. saya pun jadi benci laki-laki. Sempet juga naksir sama perempuan. Ngerasa bahwa saya perlu melindungi mereka, dan boro-boro saya pengen nikah. Igh! setiap kali inget muka laki-laki itu saya jadi marah, banting-banting segala, dan jadi frustasi sendiri.  Sampai suatu ketika, sebuah dialog dengan seorang teman menyadarkan saya. Saya lalu melakukan "proses penyembuhan" luka batin dan berhasil. Sampai suatu ketika, setelah saya dewasa, saya sebelahan sama laki-laki itu dan saya masih ingat benar detil mukanya, sedangkan dia cuma berdiri disitu, seperti tidak mengenal saya. Dan mungkin memang dia tidak kenal saya, karena saya sudah jauh berubah. Tapi eh kok saya gak marah lagi, padahal bisa aja saat itu saya mengingatkan dia pada apa yang dia lakukan pada saya. Tapi saya tidak lakukan. Saya sudah tidak dendam lagi. I'm done with my self.

Untuk Via, menjadi korban memang  bisa menjatuhkan kita ke titik terendah dalam hidup. Menghancurkan kepercayaan diri kita sampai tak bersisa sama sekali. Tapi seburuk apapun yang kita alami,  kita akan selalu punya pilihan. Then up to us, mau hancur bersama masa lalu, atau mau menjadi lebih kuat untuk masa depan. Dan percayalah, bahwa kita tidak akan pernah sendirian melalui semuanya :)

Jumat, 04 Desember 2009

Melodi Melodius




Kangen sama Spin Doctors. Sekarang nih, sedang saya puter two princess. Lagu-lagu 90's emang asik, dan jaman saya pulaaa. Yaaa keitung lagi lucu-lucunya laah di jaman itu. Eh loh loh, ini lagu mandi madu kok tiba-tiba nyelonong di kepala saya. Eh hush! hush! igh, susah banget menghilangkan melodi-melodi lagu dangdut dari kepala saya. Bukan karena saya terlalu cinta sama dengdes, sebaliknya, ini kayak jamannya lagu Gerimis Mengundang selalu terngiang-ngiang di kepala, sampe liriknya saya apal banget, dan itu semua karena saya sebel sama lagunya. Pun dengan dangdut. 

Setiap senin-sabtu siaran dangdut dua jam sebetulnya adalah siksaan teramat luar biasa *lebay banget lo pop*, tapi yaaa namanya juga tugas ya bok. Kalo dipikir-pikir, rada gila juga saya siaran sehari tiga kali dengan karakter program yang sama sekali berbeda, membuat saya harus men-switch gaya siaran. Pagi dangdut, menjelang sore berita, dan malem 90's mancanegara. Beda banget kan karakternya? Segmennya pun beda banget. Dan penyiar itu emang gak beda kok kayak para aktor. Seringkali kita harus memerankan berbagai karakter, walaupun tentunya setiap penyiar  memiliki karakter bawaan yang diistilahkan dengan Air Personality. 

Apalagi jika kita bersiaran di radio daerah, dimana semua radio disini masih bermain di ranah multisegmen, maka  kita dituntut menjadi penyiar all around, alias kanan kiri ok *dono pisaaan*. Tapi ini menarik. Sama menariknya dengan memelajari sejarah dangdut (tanpa mendengarkannya hihihihihih) kemudian melancong pada kajian musik melayu dan gambus, lalu tiba-tiba baca artikel seputar woodstock taun 70-an  dan  membayangkan seandainya Si Jim Morrison itu mau manggung disitu dan berpuisi sambil telanjang ihihihihihihihih. Saya rasa inilah yang membuat saya cinta pada profesi penyiar. Profesi ini memberikan kita kesempatan lebih banyak untuk menelusuri, mencermati dan mengapresiasi segala warna kehidupan